Pemilu 2014 menjadi harapan baru
bagi rakyat Indonesia. Rakyat ingin pemimpin baru yang mementingkan kepentingan
rakyat umum. Rakyat menginginkan pemimpin yang tahan banting, mampu menciptakan
terobosan baru dengan program kerakyatannya, bersih dari KKN dan tentunya
berani memberantas korupsi. Pemimpin yang memberi tauladan baik, pemimpin yang
tidak gila harta, dan yang bertanggung jawab terhadap Tuhan dan negaranya.
Setiap negara pasti mendambakan sosok Presiden yang dapat dibanggakan di
hadapan negara lain. Sosok presiden yang peduli dan mementingkan rakyat dari
negaranya. Begitu pula dengan rakyat Indonesia yang rindu dan mendambakan
kehadiran sosok pemimpin yang menjamin kesejahteran dan mengayomi rakyat
negaranya
Pelantikan Joko Widodo (Jokowi)
dan Jusuf Kalla (JK) sebagai presiden dan wakil presiden baru Indonesia
disambut dengan antusiasme pesta kerakyatan yang meriah. Upaya menyemai
politik harapan harus memperkuat kembali visi yang mempertimbangkan warisan
baik masa lalu, peluang masa kini, serta keampuhannya mengantisipasi masa
depan. Visi ini harus menjadi kenyataan dengan memperkuat kapasitas
transformatif kekuasaan lewat aktualisasi politik harapan.
Menurut Donna Zajonc, dalam The
Politics of Hope, untuk merealisasikan politik harapan suatu bangsa harus
keluar dari tahap anarki, tradisionalisme, apatisme menuju penciptaan pemimpin
publik yang sadar. Pada tahap pertama, seluruh tindakan politik diabsahkan
menurut logika pemenuhan kepentingan pribadi yang menghancurkan sensibilitas
pelayanan publik. Pada tahap kedua, untuk mencapai sesuatu pemimpin mendominasi
dan memarginalkan orang lain. Pada tahap ketiga, peluang-peluang yang
dimungkinkan demokrasi tak membuat rakyat berdaya justru membuatnya apatis.
Pada tahap keempat, tahap politik harapan, para pemimpin menyadari pentingnya merawat harapan dan optimisme dalam situasi krisis dengan cara memahami kesalingtergantungan realitas serta kesediaan bekerja sama menerobos batas-batas politik lama. Kekuasaan digunakan untuk memotivasi dan memberi inspirasi yang memungkinkan orang lain mewujudkan keagungannya. Warga menyadari pentingnya keterlibatan dalam politik dan aktivisme sosial untuk bergotong-royong merealisasikan kebajikan bersama.
Pada tahap keempat, tahap politik harapan, para pemimpin menyadari pentingnya merawat harapan dan optimisme dalam situasi krisis dengan cara memahami kesalingtergantungan realitas serta kesediaan bekerja sama menerobos batas-batas politik lama. Kekuasaan digunakan untuk memotivasi dan memberi inspirasi yang memungkinkan orang lain mewujudkan keagungannya. Warga menyadari pentingnya keterlibatan dalam politik dan aktivisme sosial untuk bergotong-royong merealisasikan kebajikan bersama.
Semua pihak harus menyadari bahwa
politik, sebagaimana dikatakan Hannah Arendt, adalah suatu “ruang penjelmaan” (space
of appearance) yang memungkinkan dan merintangi pencapaian manusia di
segala bidang. Oleh karena itu, terang-gelapnya langit harapan di negeri ini
sangat ditentukan oleh warna politik kita.
SUMBER :
http://www.republika.co.id/berita/kolom/resonansi/14/10/21/ndsuyv-presiden-baru-harapan-baru
http://azufri.blogdetik.com/2014/08/05/harapan-rakyat-kepada-presiden-baru-indonesia/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar