A. Pengertian Inflasi
Inflasi mempunyai pengertian sebagai
sebuah gejala kenaikan harga barang yang bersifat umum dan terus-menerus.
Inflasi adalah proses kenaikan harga-harga secara terus-menerus yang bersumber
dari terganggunya keseimbangan antara arus uang dan barang. Dari pengertian
ini, inflasi mempunyai penjelasan bahwa inflasi merupakan suatu gejala dimana
banyak terjadi kenaikan harga barang yang terjadi secara sengaja ataupun secara
alami yang terjadi tidak hanya di suatu tempat, melainkan diseluruh penjuru
suatu negara bahkan dunia. Kenaikan harga ini berlangsung secara
berkesinambungan dan bisa makin meninggi lagi harga barang tersebut jika tidak
ditemukannya solusi pemecahan penyimpangan – penyimpangan yang menyebabkan
terjadinya inflasi tersebut.
·Inflasi Ringan (Di
bawah 10% setahun)
·Inflasi Sedang
·Inflasi Berat (
antara 50-100% setahun)
·Hiper Inflasi (di
atas 100% setahun)
Laju inflasi dapat berbeda antar asatu
Negara dengan Negara lainnya atau dalam satu Negara dalam waktu yang berbeda.
Atas dasar besarnya laju inflasi maka Inflasi dapat di bagi ke dalam tiga
kategori yaitu :
-Inflasi merayap
(creeping Inflation)
Di tandai dengan laju inflasi yang
rendah (kurang dari 10% pertahun). Kenaikan harga berjalan secara lambat,
dengan persentase yang kecil serta dalam jangka yang relatif lama.
-Inflasi Menengah
(galloping Inflation)
Ditandai dengan laju inflasi yang cukup
besar dalam waktu yang relatif pendek serta mempunyai sifat akselerasi (harga
dalam waktu mingguan atau bulanan) efeknya terhadap perekonomian lebih besar
daripada inflasi yang merayap (creeping inflation)
-Inflasi tinggi
(Hyper inflation)
Merupakan inflasi yang paling parah
akibatnya harga-harga naik sampai 5 atau 6 kali lipat. Masyarakat tidak lagi
berkeinginan untuk menyimpan uang sebab nilai uang merosot dengan tajam
sehingga perputaran uang semakin cepat dan harga naik secara akselerasi.
Biasanya keadaan ini timbul apabila pemerintah mengalami defisit anggaran
belanja yang dibelanjakan dan ditutupi dengan mencetak uang.
2. Berdasar Sebab
musabab awal dari Inflasi
·
Demand
Inflation, karena permintaan masyarakat akan berbagai barang terlalu kuat
·
Cost
Inflation, karena kenaikan biaya produksi
a.
Inflasi
permintaan (Demand Inflasi) yang timbul karena permintaan
masyarakat akan berbagai barang bertambah terlalu kuat akibat tingkat harga
umum naik (misalnya karena bertambahnya pengeluaran perusahaan).
a. Inflasi biaya (cost-Push inflation)
Inflasi jenis ini timbul karena kenaikan ongkos
produksi. Inflasi ini dikenal dengan istilah cost-push inflation atau supply
inflation. Untuk lebih jelasnya simak baik-baik kurva di atas. Apabila ongkos
produksi ini misalnya disebabkan kenaikan harga alat-alat produksi yang
didatangkan dari luar negeri atau kenaikan bahan mentah maupun bahan baku.
b. inflasi campuran
Kedua mmacam inflasi yang telah dijelaskan di atas jarang sekali di jumpai
dalam praktik sehari-hari. Pada umumnya, inflasi yang terjadi di berbagai
negara merupakan campuran dari kedua macam inflasi tersebut. Inflasi campuran
merupakan campuran antara inflasi permintaan (demand-pull inflation) dan
inflasi biaya (cost-push inflation).
3. Berdasar asal dari
inflasi
·Domestic Inflation,
Inflasi yang berasal dari dalam negeri
Domestic
Inflation (inflasi
domestik) adalah inflasi yang berasal dari dalam negeri (domestik). Kenaikan
harga disebabkan karena adanya perilaku masyarakat maupun perilaku pemerintah
dalam mengeluarkan kebijakan-kebijakan. Kenaikan harga-harga tejadi secara
absolut yang berdampak terjadinya inflasi atau semakin meningkatnya angka
(laju) inflasi.
·Imported Inflation,
Inflasi yang berasal dari luar negeri
Imported
Inflation adalah
inflasi yang terjadi di dalam negeri karena adanya pengaruh kenaikan harga dari
luar negeri. Kenaikan harga di dalam negeri terjadi karena dipengaruhi oleh
kenaikan harga dari luar negeri terutama barang-barang impor atau kenaikan
bahan baku industri yang masih belum dapat diproduksi di dalam negeri. Kenaikan
Indeks Harga Luar Negeri (IHLN) akan mengakibatkan kenaikan pada Indeks Harga
Umum (IHU) dan Indeks Harga Dalam Negeri (IHDN) yang secara otomatis ikut
mempengaruhi laju pertumbuhan inflasi di dalam negeri.
C. Faktor-faktor Penyebab Timbulnya Inflasi
1. Jumlah uang
beredar
Menurut sudut pandang
kaum moneteris jumlah uang beredar adalah faktor utama yang di tuding sebagai
penyebab timbulnya inflasi di setiap Negara berkembang, tidak terkecuali di
Indonesia. Di Indonesia jumlah uang beredar ini lebih banyak diterjemahkan
dalam konsep narrow money (MI). Hal ini terjadi karena masih adanya tanggapan,
bahwa uang dikuasai hanya merupakan bagian dari likuiditasi perbankan. Sejak
tahun 1976 presentase uang kuartal yang beredar (48,7%) lebih kecil daripada
presentase jumlah uang giral yang beredar (51,3%).sehingga mengindikasikan
bahwa telah terjadi proses modernisasi di sektor moneter Indonesia juga
mengindikasikan bahwa semakin sulitnya proses pengendalian jumlah uang beredar
di Indonesia, dan semakin meluasnya moneterisasi dalam kegiatan perekonomian
subsisten, akibatnya memberikan kecenderungan meningkatnya laju inflasi.
Menurut data yang dihimpun dalam Laporan Bank Dunia menunjukan laju pertumbuhan
rata-rata jumlah uang beredar di Indonesia pada periode tahun 1980-1992 relatif
tinggi jika dibandingkan dengan Negara-negara ASEAN lainnya (kecuali
Filipina).kenaikan jumlah uang beredar di Indonesia pada tahun 1970-an sampai
awal tahun 1980-an lebih disebabkan oleh pertumbuhan kredit likuiditas dan
defisit anggaran belanja pemerintah. Pertumbuhan ini dapat merupakan efek
langsung dari kebijakan Bank Indonesia dalam sector keuangan (terutama dalam
hal penurunan reserve requirement)
2. Defisit
Anggaran Belanja Pemerintah
Seperti halnya yang
umum terjadi pada Negara berkembang, anggaran belanja pemerintah Indonesia pun
sebenarnya mengalami defisit, meskipun Indonesia menganut prinsip anggaran
berimbang. Defisitnya anggaran belanja ini banyak sekali disebabkan oleh
hal-hal yang menyangkut keterangan struktural ekonomi Indonesia, yang acap kali
menimbulkan kesenjangan antara kemauan dan kemampuan untuk membangun. Selama
pemerintahan Orde lama defisit anggaran belanja ini acapkali di biaya dari
dalam negeri dengan cara melakukan pencetakan uang baru, mengingat orientasi
kebijaksanaan pembangunan ekonomi yang inward looking policy, sehingga
menyebabkan tekanan inflasi yang hebat, tetapi sejak era Orde Baru, defisit
anggaran belanja ini di tutup dengan pinjaman luar negeri yang nampaknya
relatif aman terhadap tekanan inflasi.
Dalam era
pemerintahan Orde baru, kebutuhan terhadap percepatan pertumbuhan ekonomi yang
telah dicanangkan sejak Pembangunan Jangka Panjang, menyebabkan kebutuhan dana
untuk melakukan pembangunan sangat besar. Dengan mengingat bahwa potensi
mobilisasi dana pembangunan dari masyarakat (baik dari sektor tabungan
masyarakat maupun pendapatan pajak) di dalam negeri pada saat itu yang sangat
terbatas (belum berkembang), juga kemampuan sector swasta yang terbatas dalam
melakukan pembangunan, menyebabkan pemerintah harus berperan sebagai motor
pembangunan. Hal ini menyebabkan pos pengeluaran APBN menjadi lebih besar
daripada penerimaan rutin. Artinya, peran pengeluaran pemerintah dalam
investasi tidak dapat di imbangi dengan penerimaan, sehingga menimbulkan
kesenjangan antara pengeluaran dan penerimaan Negara, atau dapat dikatakan
telah defisit struktural dalam keuangan Negara.
Pada saat terjadinya
oil booming, era tahun 70-an, pendapatan pemerintah di sector migas meningkat
pesat, sehingga jumlah uang primer pun semakin meningkat. Hal ini menyebabkan
kemampuan pemerintah untuk berekspansi investasi di dalam negeri semakin
meningkat. Dengan kondisi tingkat pertumbuhan produksi domestic yang relatif
lebih lamban akibat kapasitas produksi nasional yang masih berada dalam keadaan
under-employment, peningkatan permintaan (investasi) pemerintah menyebabkan
terjadi relokasi sumberdaya dari masyarakat ke pemerintah, seperti yang
terkonsep dalam analisis Keynes tentang inflasi. Hal inilah yang menyebabkan
timbulnya tekanan inflasi. Tetapi, sejak berubahnya orientasi ekspor Indonesia
ke komoditi non migas, sejalan dengan merosotnya harga minyak bumi di pasar
ekspor (sejak 1982), menyebabkan kemampuan pemerinntah untuk membiayai
pembangunan nasional semakin berkurang pula, sehingga pemerintah tidak dapat
lagi mempertahankan posisinya sebagai penggerak (motor) pembangunan. Dengan
kondisi seperti ini, menyebabkan secara bertahap peran sebagai penggerak utama
pembangunan nasional, dengan demikian sumber tekanan inflasi pun beralih dari
pemerintah ke non pemerintah (swasta). Tekanan inflasi pada periode ini lebih
di sebabkan oleh meningkatnya tingkat agresifitas sektor swasta dalam melakukan
ekspansi usaha, yang didukung oleh perkembangan sektor perbankan yang semakin
ekspansif pula. Dengan kondisi sumberdaya modal domestic yang masih saja
relatif terbatas, maka pinjaman luar negeri yang sifatnya komersial maupun non
komersial pun semakin meningkat. Peran pemerintah ini dapat dimaklumi karena
kemampuan swasta nasional dalam pembangunan infrastruktur ekonomi masih sangat
terbatas.
Penyebab Inflasi,
dapat dibagi menjadi :
1.
Demand Side Inflation, yaitu disebabkan
oleh kenaikan permintaan agregat yang melebihi kenaikan penawaran agregat
2.
Supply Side Inflation, yaitu disebabkan oleh
kenaikan penawaran agregat yang melebihi permintaan agregat
3.
Demand Supply Inflation, yaiti inflasi yang
disebabkan oleh kombinasi antara kenaikan permintaan agregat yang kemudian
diikuti oleh kenaikan penawaran agregat,sehingga harga menjadi meningkat lebih
tinggi
4.
Supressed Inflation atau Inflasi yang
ditutup-tutupi, yaitu inflasi yang pada suatu waktu akan timbul dan
menunjukkan dirinya karena harga-harga resmi semakin tidak relevan dalam
kenyataan.
D. Efek Yang
Ditimbulkan Dari Inflasi
1. Efek terhadap
pendapatan (Equity Effect)
Efek terhadap
pendapatan sifatnya tidak merata, ada yang dirugikan tetapi ada pula yang di
untungkan dengan adanya Inflasi. Seseorang yang memperoleh pendapatan tetap
akan dirugikan oleh adanya inflasi. Misalnya seorang yang memperoleh pendapatan
tetap Rp. 500.000,00 per tahun sedang laju inflasi sebesar 10%, akan menderita
kerugian penurunan pendapatan riil sebesar laju inflasi tersebut, yakni
Rp.50.000,00
2. Efek terhadap
efisiensi (Efficiency Effect)
Inflasi dapat pula
mengubah pola alokasi faktor-faktor produksi. Perubahan ini dapat terjadi
melalui kenaikan permintaan akan berbagai macam barang yang kemudian dapat
mendorong terjadinya perubahan dalam produksi beberapa barang tertentu sehingga
mengakibatkan alokasi faktor produksi menjadi tidak efisien.
3. Efek terhadap
Output (Output Effect)
Dalam menganalisa
kedua efek diatas (Equity dan Efficiency Effect) digunakan suatu anggapan bahwa
output tetap. Hal ini dilakukan supaya dapat diketahui efek inflasi terhadap
distribusi pendapatan dan efisiensi dari jumlah output tertentu tersebut.
4. Inflasi dan
Perkembangan Ekonomi.
Inflasi yang tinggi
tingkatnya tidak akan menggalakan perkembangan ekonomi. Biaya yang terus
menerus naik menyebabkan kegiatan produktif sangat tidak menguntungkan. Maka
pemilik modal biasanya lebih suka menggunakan uangnya untuk tujuan spekulasi.
Antara lain tujuan ini dicapai dengan pembeli harta-harta tetap setiap tanah,
rumah dan bangunan. Oleh karena pengusaha lebih suka menjalankan kegiatan
investasi yang bersifat seperti ini, investasi produktif akan berkurang dan
tingkat kegiatan ekonomi menurun. Sebagai akibatnya lebih banyak pengangguran
akan terwujud.
5. Inflasi dan
Kemakmuran masyarakat.
Disamping menimbulkan
efek buruk di atas kegiatan ekonomi Negara, inflasi juga akan menimbulkan
efek-efek berikut kepada individu masyarakat :
a. Inflasi akan
menimbulkan pendapatan riil orang-orang yang berpendapatan tetap.
b. Inflasi akan
mengurangi nilai kekayaan yang berbentuk uang.
c. Memperburuk
pembagian kekayaan.
E. Cara
Mencegah Inflasi
1. Kebijakan Moneter
Kebijakan ini adalah
kebijakan yang berasal dari bank sentral dalam mengatur jumlah uang yang
beredar melalui instrument-instrumen moneter yang dimiliki oleh bank sentral.
Melalui instrument ini diharapkan peredaran uang dapat diatur dan inflasi dapat
di kendalikan sesuai dengan yang telah ditargetkan sebelumnya. Terdapat tiga
kebijakan yang dapat di tempuh bank sentral dalam mengatur inflasi :
a. Kebijakan Diskonto.
Kebijakan
diskonto (discount policy) adalah kebijakan bank sentral untuk
mempengaruhi peredaran uanng dengan jalan menaikkan dan menurunkan tingkat
bunga. Kaitannya dengan bank syari'ah yaitu dengan jalan menaikkan dan
menurunkan tingkat nisbah bagi hasil.
b. Operasi Pasar Terbuka.
Yaitu dengan jalan
membeli dan menjual surat-surat berharga.
c. Kebijakan Persediaan Kas (cash ratio policy).
Yaitu kebijakan bank
sentral untuk mempengaruhi peredaran uang dengan jalan menaikkan dan menurunkan
presentasi persediaan kas dari bank.
2. kebijaksanaan
Fiskal
Kebijaksanaan fiskal
menyangkut pengaturan tentang pengeluaran pemerintah serrta perpajakan yang
secara langsung dapat mempengaruhi permintaan total dan dengan demikian akan
mempengaruhi harga. Inflasi dapat dicegah melalui penurunan permintaan total.
Kebijakan fiskal yang berupa pengurangan pengeluaran pemerintah serta kenaikan
pajak akan dapat mengurangi permintaan total, sehingga inflasi dapat ditekan.
3. Kebijaksanaan yang
berkaitan dengan Output.
Kenaikan Output dapat
memperkecil laju inflasi. Kenaikan jumlah output ini dapat dicapai misalnya
dengan kebijaksanaan penurunan bea masuk sehingga impor barang cenderung
meningkat. Bertambahnya jumlah barang didalam negeri cenderung menurunkan
harga.
4. kebijaksanaan
Penentuan Harga dan Indexing.
Ini dilakukan dengan
penentuam ceiling harga, serta mendasarkan pada indeks harga tertentu untuk
gaji ataupun upah (dengan demikian gaji/upah secara riil tetap). Kalau indeks
harga naik maka gaji/upah juga dinaikan.
5. Kebijakan
Lain
1. Peningkatan Produksi.
Meski jumlah uang
beredar bertambah jika di iringi dengan peningkatan produksi, maka tidak akan
menyebabkan inflasi. Bahkan hal ini menunjukkan adanya peningkatan kemampuan
ekonomi.
2. Kebijakan Upah.
Inflasi dapat diatasi
dengan menurunkan pendapatan yang siap dibelanjakan (disposable income)
masyarakat.
3. Pengawasan Harga.
Kecenderungan
dinaikkannya harga oleh pengusaha dapat diatasi dengan adanya pengawasan harga
pasar.
6. Perbaikan
Prilaku Masyarakat
Dalam mengatasi
inflasi, selain kebijakan-kebijakan di atas perlu adanya perbaikan prilaku
masyarakat. Sesungguhnya stabilitas nilai mata uang tidak didasarkan
kepada zat mata uang, sehingga berefek pada tindakan revolusioner yang mengubah
seluruh zat mata uang dari kertas ke logam mulia emas dan perak, melainkan
dengan perbaikan perilaku ekonomi manusia yang berada di sekitar mata uang
tersebut.
Ciri kerusakan mata
uang dînâr-dirham dan mata uang kertas adalah sama, yakni
sama-sama diakibatkan oleh perilaku ekonomi yang destruktif. Mata uang dînâr-dirham pernah
rusak karena penimbunan dan pemalsuan, sedangkan mata uang kertas pernah rusak
karena pembungaan dan spekulasi. Krisis moneter di akhir tahun sembilan puluhan
dan krisis global yang terjadi baru-baru ini, bersumber dari pembungaan dan
spekulasi tersebut.
Sedangkan menurut M.
Hatta[2] setidaknya ada tujuh kebijakan moneter Islam
yang dapat mengendalikan inflasi baik secara langsung maupun tidak langsung,
yaitu: Dinar dan dirham sebagai mata uang, hukum jual beli mata uang asing,
hukum pertukaran mata uang, hukum bunga, hukum pasar modal, hukum perbankan,
hukum pertukaran internasional, dan otoritas kebijakan moneter
F. Cara Mengatasi Inflasi
Untuk mengatasi terjadinya Inflasi, bisa dilakukan
kebijakan uang ketat meliputi :
1. Peningkatan tingkat suku bunga
2. Penjualan surat berharga
3. Peningkatan cadangan Kas
4. Pengetatan pemberian kredit
Dalam pemulihan makro ekonomi, tim ekonomi pemerintah
harus mampu menciptakan kestabilan makro ekonomi, dengan menekan inflation rate
menjadi single digit, sekitar 8%. Makro ekonomi yang menyangkut tiga komponen
yaitu interest rate, inflation rate dan exchange rate, yang semuanya saling
tergantung dan saling mempengaruhi satu sama lain. Di sisi lain, dengan
diturunkannya BI rate, hal tersebut berpengaruh pada turunnya suku bunga
perbankan dan akan mendorong investor menanamkan investasi lebih banyak.
Aktivitas perekonomian terus berputar. Dengan demikian akan mampu menyerap tenaga
kerja dalam jumlah yang besar secara bertahap, sehingga pendapatan masyarakat
akan ikut naik. Dalam rangka menungkatkan iklim investasi secara nasional guna
menanggulangi dan meningkatkan di sektor riil.
G. Peran Bank Sentral
Bank sentral memainkan peranan penting dalam
mengendalikan inflasi. Bank sentral suatu negara pada umumnya berusaha
mengendalikan tingkat inflasi pada tingkat yang wajar. Beberapa bank sentral
bahkan memiliki kewenangan yang independen dalam artian bahwa kebijakannya
tidak boleh diintervensi oleh pihak di luar bank sentral -termasuk pemerintah.
Hal ini disebabkan karena sejumlah studi menunjukkan bahwa bank sentral yang
kurang independen -- salah satunya disebabkan intervensi pemerintah yang
bertujuan menggunakan kebijakan moneter untuk mendorong perekonomian -- akan
mendorong tingkat inflasi yang lebih tinggi.
Bank sentral umumnya mengandalkan jumlah uang beredar
dan/atau tingkat suku bunga sebagai instrumen dalam mengendalikan harga. Selain
itu, bank sentral juga berkewajiban mengendalikan tingkat nilai tukar mata uang
domestik. Hal ini disebabkan karena nilai sebuah mata uang dapat bersifat
internal (dicerminkan oleh tingkat inflasi) maupun eksternal (kurs). Saat ini
pola inflation targeting banyak diterapkan oleh bank sentral di seluruh dunia,
termasuk oleh Bank Indonesia.
Sumber :
http://heranoviyanth.blogspot.co.id/2012/09/makalah-inflasi.html